Selasa, 24 Juni 2014

Bakat dan Kreativitas anak SD



A.    Pengertian Bakat
            Menurut Utami munandar (1987) bahwa bakat dapat diartikan sebagai kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangakan dan dilatih agar dapat terwujud. Pendapat ini juga sejalan dengan yang dikemukakan oleh Sarwono (1986) bahawa bakat adalah kondisi di dalam diri seseorang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus. Dengan demikian, bakat merupakan potensi yang ada dalam diri seseorang yang perlu dilatih dan dikembangkan karena tanpa latihan dan pengembangan maka bakat yang ada dalam diri seseorang tidak akan terwujud.

B.     Bakat sebagai Potensi yang Dapat Dikembangkan
            Dalam masa pertumbuhannya bila bakat anak tidak terwujud secara nyata maka hal ini mungkin dapat disebabkan oleh orang tua, guru atau sekolah dan pergaulan. Di sisi orang tua, tidak jarang dijumpai orang tua yang tidak menyadari atau tidak mengenal bakat-bakat anaknya. Meskipun ia mengenal bakat anaknya dan memiliki sarana untuk mengembangkannya, namun hal ini bukanlah sesuatu yang penting. Sama halnya jika guru atau sekolah memiliki sikap  yang sama dengan orang tua maka bakat anak juga tidak akan terwujud. Dilain pihak teman-teman sebaya atau sepermainan juga dapat memberi pengaruh terhadap terwujud atau tidaknya bakat seorang anak.
            Utami Munandar menjelaskan (1987) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat menentukan sejauh mana bakat anak dapat terwujud. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Faktor dalam diri anak
Bagaimana minat anak pada sesuatu, seberapa besar keinginan anak untuk mewujudkan bakatnya dalam prestasi.
2.      Faktor keadaan lingkungan anak
Seberapa jauh anak mendapat kesempatan untuk mengembangkan bakatnya, sarana dan prasarana yang tersedia, berapa besar dukunagn dan dorongan orang tua, bagaimana keadaan sosial ekonomi orang tua maupun tempat tinggalnya.
C.     Pengertian Kreativitas
            Dalam bukunya mengenai mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Utami Munandar (1987) memberikan beberapa pengertian menurut para ahli, salah satunya adalah bahwa kreativitas merupakan kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, dan unsur-unsur yang ada.
Pengertian lain dari kreativitas yang juga kesimpulan dari Utami Munandar (1987) menyebutkan bahwa secara operasional kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orsinalitas dalam berfikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan.
            Kreativitas menurut konsep atau pendekatan P4, merupakan suatu pendekatan yang melihat kreativitas dari segi pribadi, pendorong (press), proses dan produk kreativitas. Sebagai pribadi menunjukkan bahwa kreativitas dimiliki oleh setiap orang, namun dalam kadar yang berbeda-beda. Sebagai pendorong diartikan bahwa lingkungan memiliki andil memberikan rangsangan agar kreativitas dapat terwujud.             Proses adalah sesuatu yang diperlukan, untuk melihat bagaimana suatu hasil kreatif seseorang diharapkan dapat dinikmati oleh lingkungan dan yang terpenting harus bermakna bagi yang bersangkutan (Utami Munandar, 1999 dan Rosemini, 2000).
D.    Hubungan Kreativitas dengan Kecerdasan
            Teori ambang intelegensia untuk kreativitas dari Anderson (dalam Utami Munandar, 1999) memaparkan bahwa sampai tingkat intelegensi tertentu yang diperkirakan seputar IQ 120, ada hubungan yang erat antara intelegensi dan kreativitas. Hal ini dapat dimengerti karena untuk menciptakan suatu produk kreativitas yang tinggi diperlukan tingkat intelegensi yang cukup tinggi pula.
Mengacu pada pendapat Hurlock (1987) bahwa kreativitas tidak dapat berfungsi dalam keadaan vakum karena berasal dari apa yang telah diperoleh selama ini, dan hal ini juga tergantung pada kemampuan intelektual seseorang.
E.     Belajar dan Berpikir Kreatif
            Ciri-ciri dari kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berfikir seseorang, yaitu kemampuan berfikir kreatif belum tentu mewujudkan kreativitas seseorang. Supaya bakat kreatif dapat benar-benar terwujud maka diperlukan dorongan, atau motivasi dari dalam untuk berbuat sesuatu serta pengabdian atau pengikatan diri terhadap tugas ( Utami Munandar, 1987) yang merupakan ciri afektif dari kreativitas.
            Dalam penelitian Utami Munandar menunjukan adanya hubungan yang bermakna antara kemampuan berpikir divergen dengan kemampuan berpikir konvergen. Dengan ini maka proses belajar kreatif tidak bisa dilepaskan dari keduanya. Sampai sekarang, proses belajar yang terjadi di dunia pendidikan formal lebih menitikberatkan pada proses berpikir konvergen sehingga banyak siswa terhambat dan tidak mampu menghadapi masalah yang menuntut pemikiran dan pemecahan masalah secara kreatif.
            Berikut ini berapa cara yang dikemukakan oleh Utami Munandar (1987) untuk menciptakan hal tersebut.
1.         Menciptakan Lingkungan di Dalam Kelas yang Merangsang Belajar Kreatif Feidhusen dan Trefinger memberi saran-saran agar tercipta suatu lingkungan kreatif:
a.    Memberikan pemanasan
b.    Pengaturan fisik
c.    Kesibukan didalam kelas
d.   Guru sebagai fasilitator
2.         Mengajukan dan Mengundang Pertanyaan
Pertanyaan yang merangsang pemikiran kreatif adalah pertanyaan divergen (terbuka). Pertanyaan semacam ini dapat merangsang diskusi karena memiliki banyak kemungkinan jawaban. Dengan diskusi anak memperoleh pengalaman dan latihan mengungkapkan diri secara lisan dan bekomunikasi dengan orang lain yang memungkinkan pengembangan penalaran, pemikiran kritis, dan kreatif.
3.         Memadukan Perkembangan Kognitif (Berfikir) dan Afektif (Sikap dan Perasaan)
a.    Ciri kemampuan berfikir kreatif
(1) Keterampilan berpikir lancar (2) keterampilan berpikir luwes (3) keterampilan berpikir orisinal (4) keterampilan memerinci (5) keterampilan menilai
b.    Ciri afektif
(1)     Rasa ingin tahu (2) bersifat imaginative (3) merasa tertantang oleh kemajemukan (4) sifat berani mengambil resiko (5) sifat menghargai
c.    Menggabungkan pemikiran divergen dan pemikiran konvergen
Pemikiran konvergen tampaknya tidak asing lagi bagi siswa, namun pemikiran divergen memang jarang dirangsang dalam pendidikan formal.
Berbicara mengenai keterampilan berpikir konvergen dan divergen tidak berarti bahwa keduanya harus berada dalam kegiatan yang berbeda. Guru dapat menggabungkan keduanya dalam satu proses belajar mengajar.
d.   Menggabungkan proses berpikir dengan proses afektif
Guru dapat merancang kegiatan belajar mengajar dengan mengkombinasikan keduanya.
Misalnya, kegiatan belajar yang menggabungkan keterampilan berfikir luwes dan ciri afektif yang berkaitan dengan daya imajinasi adalah dalam pelajaran mengarang mengenai suatu tema tertentu atau setelah siswa membaca suatu artikel tertentu lalu diminta untuk menceritakan kembali.
F.      Faktor-faktor yang Berpengaruh dan Sumber-sumber Kreativitas yang Perlu Dikembangkan
            Kreativitas yang merupakan potensi seseorang dapat berkembang karena adanya faktor dari dalam dan luar diri. Dapat dikatakan bahwa perkembangan bakat kreatif seseorang berkaitan dengan dua faktor, yaitu motivasi seseorang untuk mengembangkannya, dan lingkungan yang mendukung perkembangannya, termasuk latihan yang ditangani para ahli. Mengingat pentingnya faktor lingkungan maka orang tua dan guru perlu memberikan dorongan untuk merngsang potensi kreatif.
            Arasteh (dalam Hurlock, 1978) mengemukakan adanya masa-masa kritis dalam perkembangan kreativitas. Masa-masa kritis tersebut adalah usia 5 sampai 6 tahun, usia 8 sampai 10 tahun, usia 13 sampai 15 tahun dan usia 17 sampai 19 tahun. Berkaitan dengan anak usia SD maka hanya akan dibahas dua masa kritis pertama.
1.      Usia 5 sampai 6 tahun
Sebelum anak siap masuk sekolah anak diajarkan untuk menerima apa yang ditetapkan oleh tokoh otoriter, mematuhi aturan dan keputusan orang dewasa lingkungan rumahnya, kemudian ini akan berkembang dilingkungan sekolah. Lingkungan otoriter akan menghambat kreativitas anak.
2.      Usia 8 sampai 10 tahun
Masa ini merupakan masa, dimana ada kebutuhan untuk dapat diterima sebagai anggota dalam kelompok teman sebayanya dengan menerima pola-pola yang ditetapkan kelompoknya.



Sumber-sumber kreativitas yang perlu dikembangkan
            Dalam bukunya Child Development, Berk (2000) mengemukakan beberapa komponen yang perlu dikembangkan.
1.      Sumber Kognitif
Hasil karya kreatif juga melibatkan keterampilan kognitif dalam tingkat yang tinggi. Tidak sekedar memecahkan masalah, namun juga dalam menemukan masalah. Pada anak-anak, makin banyak usaha untuk mengenal masalah, semakin orisinal hasil yang dicapai.
2.      Sumber kepribadian
Karakteristik kepribadian turut mengembangkan komponen kognitif dari kreativitas. Beberapa sifat yang harus ada adalah berikut ini.
a.       Gaya inovatif dari berpikir
b.      Sikap toleran pada kekuatan dan sesuatu yang jamak
c.       Kemauan untuk mengambil resiko
d.      Berani terhadap pendapat
3.      Sumber Motivasi
Motivasi untuk kreativitas lebih menitikberatkan pada tugas daripada tujuan. Oleh karena ini menunjukkan pada keinginan untuk berhasil pada tingkat yang lebih tinggi, tetap memusatkan perhatian pada masalah. Sedangkan jika titikberatnya pada tujuan, hal ini banyak berkaitan dengan hadiah/penghargaan . pemberian hadiah/penghargaan yang terlalu banyak atau sering tidak terlalu baik karena justru akan menghambat kreativitas.
4.      Sumber Lingkungan
Lingkungan dapat menciptakan kondisi fisik maupun sosial yang membantu seseorang untuk menghasilkan dan mengembangkan ide-ide baru.
Dengan mengetahui sumber-sumber kreativitas yang meliputi segi intelektual, kepribadian, motivasional maupun lingkungan, dihrapkan lingkungan rumah maupun maupun sekolah dapat memberikan rangsangan yang sesuai dengan mengutamakan proses buakn produknya.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar